arrow-right cart chevron-down chevron-left chevron-right chevron-up close menu minus play plus search share user email pinterest facebook instagram snapchat tumblr twitter vimeo youtube subscribe dogecoin dwolla forbrugsforeningen litecoin amazon_payments american_express bitcoin cirrus discover fancy interac jcb master paypal stripe visa diners_club dankort maestro trash

News

Earworms #9 - Smita Kirana

Earworms #9 - Smita Kirana


Ilustrasi: Abi Chalabi.

Jika kalian mengikuti label ini sejak awal, kemungkinan besar kalian pernah berjumpa dengan Smita Kirana melalui video klip Bedchamber yang berjudul Perennial, selain ketika ia bermain bass bersama Ratta, Abi, dan Ariel. Video yang dibuat enam tahun lalu itu berlokasi di Portland, Amerika Serikat yang merupakan tempat Smita pernah bersekolah. Periode tersebut menjadi salah satu dari banyak latar belakang Smita yang menarik dan turut memperkaya referensi musiknya hingga saat ini. Selain bermusik, Smita juga sibuk sebagai perancang grafis yang salah satu karyanya bisa dilihat pada cover Perennial EP, membuat cookies paling enak yang pernah kami makan (silahkan kontak sendiri jika ingin coba!), dan membuat kami sering kali iri dengan kisah-kisah pengalaman konser dan perjumpaannya dengan banyak band atau musisi favorit kami, seperti Radiohead, Blur, The Flaming Lips, dan Wild Nothing bahkan ketika belum ada satu pun dari kami yang mendengarkan Wild Nothing! Huh.

Pada episode Earworms kali ini, Smita membagikan lagu-lagu yang memberikan kesan nostalgia bagi dirinya dan menjadi penyemangat kerja di masa pandemi.

Kolibri Rekords: Bagaimana kamu menjelaskan tentang playlist ini?

Smita Kirana: Nostalgia ke masa pra-pandemi ketika kita bisa naik mobil sama keluarga buat ke mall di hari Sabtu sore sambil denger Brava Radio, atau ketiduran di jok belakang mobil sepulang dari rumah eyang waktu kecil dulu.

KR: Kapan atau di mana sebaiknya playlist ini didengarkan?

SK: Playlist ini hampir setiap hari gue dengerin. Terutama pas WFH ini, karena gue sharing meja kerja sama bokap jadi enaknya pasang lagu yang kita berdua sama-sama suka.

KR: Apakah ada cerita atau alasan khusus dari lagu-lagu yang dimasukkan ke playlist ini?

SK: Lagu-lagu ini seringkali diputar di momen-momen yang nggak signifikan sih, tapi entah kenapa ternyata sentimental juga. 

KR: Apakah ada rilisan baru yang kamu lagi suka?

SK: Lagi jarang banget dengerin band-band baru, kayaknya masa pandemi ini menggali kembali trauma-trauma yang terkubur di masa lalu gue ketika tinggal sendiri di Amerika. Jadi gue lagi sering dengerin lagu-lagu yang gue suka denger ketika gue di sana. Palingan yang terakhir gue suka banget itu Weyes Blood - Andromeda, tapi itu udah lama juga!!

KR: Ceritakan salah satu lagu yang berdampak besar bagimu saat remaja!

SK: The Flaming Lips - Do You Realize?? Secara umum emang bagus banget lagunya. Tapi gara-gara lirik "Do you realize that everyone you love someday will die?" pecah deh, jadi mikir macem-macem. One of the best pop songs ever written, period.

KR: Sebagai pekerja di dunia periklanan, lagu apa yang selalu bisa menambah mood bekerja saat ini?

SK: Ini ada hubungannya banget sama dunia pariwara. Gue suka dengerin musik-musik latar radio dan TV tahun 50-an, Light Music lah istilahnya. Laurie Johnson, Group-Forty Orchestra, Werner Tautz, jadi langganan gue deh. Walaupun era itu problematic banget tapi light music ini bisa sparks ide macem-macem, terutama kalo lagi bikin kerjaan yang super komersil.

KR: Jika dibolehkan membuat iklan semaunya, lagu apa yang ingin kamu gunakan untuk iklan tersebut?

SK: Apa aja asalkan bisa se-iconic iklan salah satu rokok edisi Idul Fitri yang pake lagu Ebiet G Ade itu sih. Kalau lagunya bukan itu mungkin nggak bakal terkenang sampai sekarang, IMHO. Semoga gue bisa sampai ke crafting selevel itu. Hahahaha.

Dengarkan playlist-nya di sini:

Shopping Cart